Pentingnya Mental Health bagi Generasi Z
Apa itu kesehatan mental? Sebelum kita masuk jauh lebih dalam, mari kita pahami terlebih dahulu arti dari mental itu sendiri. Menurut KBBI, mental adalah hal yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Lalu, kesehatan mental itu sendiri apa? Menurut Wikipedia, kesehatan mental atau kesehatan jiwa adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan mental terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam kondisi sehat, gangguan kecemasan, stres, dan depresi.
Berbicara tentang kesehatan mental, di era yang semakin maju ini, tidak jarang kesehatan mental itu sering diabaikan. Terutama bagi kaum generasi Z, kesehatan mental sering kali terlihat sepele. Hal ini terlihat dari lingkungan generasi Z sendiri. Banyak remaja yang senang “mempermainkan” temannya tanpa memperhatikan kondisi psikologis dari temannya itu sendiri. Ketika salah seorang temannya merasa kesal dan marah, sang kawan bukannya meminta maaf, melainkan malah mengatai “ih dasar baper!”, “jangan bawa perasaan donk!”, “kamu gak asik!”. Ya, kata-kata itu terlihat sepele, tetapi bagi korban, hal itu membuat kondisi mentalnya semakin memburuk. Contoh lain seperti seorang remaja yang harus selalu eksis di media sosial akibat tuntutan lingkungannya, sehingga melupakan jati diri, kehilangan arah, dan akhirnya depresi. Bahkan dapat berujung ingin mengakhiri hidup.
Menurut studi yang dilakukan oleh Pew Research Center terhadap remaja di Amerika Serikat, masalah kesehatan mental itu ditemui pada remaja dari berbagai status sosial dan gender. Sebanyak 7 dari 10 remaja berusia 13-17 tahun itu mengatakan kecemasan dan depresi adalah masalah utama di kelompok usia mereka. Ketika ditanya tentang tekanan yang dimiliki, 61 persen menjawab mereka merasakan keresahan karena harus mendapat nilai yang bagus. Sebagai perbandingan, 3 dari 10 remaja mengatakan ada tekanan untuk selalu tampil keren dan juga bisa menyesuaikan diri secara sosial. Sementara itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut, 140 dari 1000 remaja Indonesia juga memiliki kesehatan mental. Dan yang tidak kalah menyedihkan, dilansir dari data Badan Kesehatan Jiwa (Bakeswa), lebih dari 30 persen dari 914 siswa di Jakarta terkena depresi. Bahkan 16,6 persen di antaranya mengaku sempat berniat untuk bunuh diri.
Dari data di atas, sangat penting bagi kaum generasi Z untuk mengenali ciri-ciri terjadinya gangguan kesehatan mental. Depresi pada remaja meliputi perubahan sikap dan perilaku yang dapat menyebabkan masalah dan mengganggu kegiatan sosial lainnya. Beberapa perubahan emosional seperti perasaan sedih tanpa alasan yang jelas, frustrasi, merasa putus asa atau hampa, tingkat percaya diri yang rendah, menyalahkan diri sendiri, sulit berkonsentrasi, dan bahkan berpikir untuk mengakhiri hidup merupakan gejala yang sangat serius walau terlihat sepele.
Gejala-gejala di atas tidak dapat dibiarkan. Apabila terus-menerus dibiarkan, maka hal fatal yang tidak diinginkan pun dapat terjadi kapan saja. Segera periksakan diri Anda ke pihak medis. Jangan ragu dan merasa malu, sebab saran dari ahli adalah yang terbaik. Ketika Anda juga melihat seseorang yang mulai terkena depresi, jangan berusaha untuk menghakimi dan menasehati dia, karena belum tentu apa yang Anda pikirkan sama dengan yang korban pikirkan. Segera periksakan ia ke dokter ahli kejiwaan. Selanjutnya, ubahlah gaya hidup, lingkungan, dan pergaulan ke arah yang lebih sehat. Menjadi diri sendiri adalah hal yang paling baik yang bisa Anda lakukan.
Kita sebagai generasi Z harus lebih peka terhadap masalah kesehatan sosial. Dimulai dari hal sederhana seperti menghargai orang lain. Mengucapkan satu kata yang membuat sakit hati, bisa saja menghancurkan kehidupan seseorang. Maka, berpikirlah sebelum bertindak. Dengan begitu, kamu dapat menyelamatkan hidup seseorang.
Komentar
Posting Komentar